LELAKI MENAHAN PERIH : Sebuah Puisi dari Kumpulan Puisi Dunia Kertas
Terhempas hatinya di lantai waktu yang lusuh,
di sela kertas-kertas usang yang menjelma bangkai kenangan.
Ia letih menghitung bayang harapan
yang pernah dilukiskan di kanvas kejujuran,
kini memudar, dipupus senyap—
seperti siang yang perlahan ditelan malam.
Lelaki menahan perih.
Luka bersarang di jantungnya,
sementara pisau-pisau keangkuhan
memaksanya bersimpuh
dalam dendam, dalam ketakberdayaan.
Ia masih menyeka amarah
yang mengalir di sela darahnya,
panas, tapi tak pernah tumpah jadi teriak.
Seperti sketsa masa depan
yang ia torehkan di awang-awang,
lelaki itu gentar bertaruh dengan matahari—
takut cahaya kembali mengkhianati janji.
Sejenak ia menunduk,
membiarkan sunyi berbicara.
Menanti jiwanya berunding dengan dunia
yang tak pernah adil, tapi selalu menuntut tabah.
Entah sampai kapan lelaki itu sanggup menahan
perih,
bertahan dalam kelam,
tanpa rintih,
tanpa saksi.

Comments
Post a Comment