CATATAN SUNYI DI UJUNG HARI
A ku menuliskan kembali tentang sebuah rasa. Tentang siluet hati yang meski pedih namun ingin tetap ku kenang sebagai sebuah penggalan kisah. Pagi pernah membawa hangat yang begitu sederhana. Begitu pun teriknya siang atau redupnya senja. Ketika tawa masih bisa lepas tanpa sekat, ketika percakapan kita cukup diikat oleh rasa percaya dan hobi yang sama. Kamu adalah teman lama, sosok yang pernah kubela tanpa ragu. Saat genderang Pemilihan itu ditabuh, aku yakin melangkah di sampingmu. Tubuhku saat itu sebetulnya belum sepenuhnya pulih. Rasa lelah dan sisa sakit kerap menyapa di tengah riuhnya perjuangan, tetapi hatiku tak pernah berhitung. Aku membantumu dengan penuh ikhlas, tanpa memikirkan apa yang bisa kuambil kembali. Aku mengambil peran yang ku mampu. Bagiku, keberhasilanmu saat itu adalah kebahagiaan seorang sahabat. Aku hanya ingin melihatmu berdiri tegak di puncak mimpi. Namun, waktu rupanya pandai mengubah arah angin. Waktu pun berlalu sejak keriuhan itu reda....