BERI AKU RUANG
Di kedalaman matamu, Aku membaca sisa-sisa ragu yang enggan berlalu
Bak ombak yang gemetar mendekati pesisir
Takut pecah dan hancur sebelum sempat berdesir.
Aku paham benar, Ada lebam masa lalu yang belum pudar
Kenangan pahit yang masih sering berakar
Namun di sini aku berdiri, menawarkan sebuah janji
Cinta yang tak sekadar singgah, namun menetap hingga mati.
Sebab aku bukanlah pengembara yang gemar berpindah
Datang saat cerah, lalu raib saat cuaca berubah
Aku ingin menjadi rumah tempatmu pulang
Dermaga paling tenang saat badaimu datang menerjang.
Maka, beri aku sedikit ruang untuk menyemai bukti
Bahwa ucapanku bukanlah hiasan bibir yang akan mati
Akan kujaga hatimu melebihi kilau permata paling murni
Biar sang waktu yang menjadi saksi abadi.
Meski hari ini aku masih terasa asing di ingatan
Ketahuilah, namamu telah menetap dalam setiap detak penantian
Dan di setiap fajar yang menyingkap tabir malam
Kau akan dapati kesetiaanku, teguh dan takkan pernah padam.
Medan, Akhir Tahun 1998
Comments
Post a Comment