Puisi: KEJUJURAN YANG TERKUBUR
Lalu membuat dogma, seolah kejahatan itu tinggal jauh
di gedung tinggi,
di meja rapat ber-AC,
di tangan-tangan pejabat kalap.
Padahal…
korupsi juga tinggal di rumah kita,
di kantor kecil, di kelompok mungil
di pasar pagi, di sela jalan tani
di saku celana yang terasa hangat ataupun
di catatan laporan sosial.
Korupsi itu saat kita berkata,
“ah, cuma sedikit.”
Saat kita mengambil lebih
karena yakin tak ada yang melihat.
Saat kita mencuri waktu kerja,
lalu menuntut gaji penuh
dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Ia ada di timbangan yang dikurangi,
di nota yang dilebihkan,
di absen yang dititipkan,
di jam masuk yang dimanipulasi.
Di uang kas yang “dipinjam sebentar”,
lalu lupa dikembalikan selamanya.
Kita menyebutnya pintar.
Kita menyebutnya akal.
Kita menyebutnya biasa.
Padahal di situlah
kejujuran mulai kita kubur,
sedikit demi sedikit,
kurus lalu menjadi subur
Sampai suatu hari
kita tak lagi ingat
berapa harga diri yang sudah terjual.
Korupsi semakin menjadi
bukan karena semua orang jahat,
tetapi karena terlalu banyak orang
memilih diam,
memilih ikut,
memilih aman.
Kita tahu itu salah,
tapi kita berdamai dengannya.
Kita tahu itu curang,
tapi kita tertawa sambil melakukannya.
Hati kita berbisik,
namun kita membisikkannya kembali:
“semua juga begitu.”
Lalu kita bertanya,
kenapa negeri ini rapuh?
Kenapa kepercayaan mahal?
Kenapa janji mudah patah?
Padahal jawabannya
sedang bercermin di depan kita.
Korupsi besar lahir
dari kebiasaan kecil
yang tak pernah kita hentikan.
Dari dusta ringan
yang dibiarkan berulang.
Dari moral yang kita tawar
demi kenyamanan sesaat.
Maka jika hari ini
kita ingin perubahan,
jangan tunggu jabatan,
jangan tunggu kekuasaan.
Mulailah dari yang sederhana:
mengembalikan yang bukan hak,
bekerja dengan sungguh-sungguh,
berani berkata tidak
meski sendirian.
Cerita melawan korupsi
bukan soal seberapa lantang kita bicara,
tapi seberapa teguh kita menolak
saat kesempatan curang
datang menghampiri.
Dan mungkin,
kejujuran tak membuat kita kaya,
tapi ia membuat kita utuh.
Membuat kita bisa tidur
tanpa takut pada bayangan sendiri.
Sebab negeri yang jujur
tak dibangun oleh orang sempurna,
melainkan oleh orang biasa
yang memilih
tidak ikut curang
meski bisa.
.png)
Comments
Post a Comment