Puisi: SENANDUNG SUNYI ALAM KERINCI




Kembali ku menapak disini

Saat rindu resah mengusik

Membujuk tuk mengenang masa lalu

 

Pupus pudarlah bayangan itu

Cabiklah lembaran memoriku

Senyap dan buram oleh keangkuhan

 

Seakan masih kudengar riuh kicau burung

Menjaga aku menanti sang mentari

Berharap embun-embun itu tersapu

Dan kupinta mendung ikut berlalu

Lalu ku hampiri sawahku

 

Seakan masih kudengar suara serunai

Melodi yang menghapus peluh dari dahiku

Lalu mendapat jabat tangan erat dari sahabat

Di pematang berbagi keluh kesah dengan hangat

Dan kembali terbangkitkan semangat

 

Seakan bisa kudengar candaan kerbau

Memaksa aku menatap cakrawala

Dalam sapaan semilir angin petang

Merindukan  kemilau cahaya rembulan

mengundangku untuk mendatangi surau

 

Pelantun Ayat Suci tak lagi ku kenal

Yang mestinya hatiku akan bergetar

Dan langkuku semakin sadar

 

Suara Tale pun begitu, hanya berlalu

Yang mestinya aku kan terpaku

Dan kubaca sejarahku

 

Petatah-petitih tetua tak lagi mendayu

Yang mestinya aku kan malu

Dan kubenahi lakuku

 

Ah… Aku mungkin sedang berkhayal

Atau memang tak mampu menalar

Benatkah ini nyata?

Atau pernah ada?

Tak mampu kujawab Tanya

 

Aku terasing di negeri ku

Dalam riuh dan bising kucilkan aku

Aku terusir dari tanahku

Pergi dan menjauh dari lumbungku

 

Kini…

Dimana aku harus mencari

Senandung sunyi Alam Kerinci

 

(Inderapura Estate, Akhir 2009)

 


Comments

Popular posts from this blog

Panggilan Seseorang Menurut Adat Sungai Penuh (dan Kerinci umumnya)

LIRIK LAGU SUNGAI PENUH – KERINCI “ SALUKO ANAK DATUNG “ dipopulerkan oleh Monalisa

LIRIK LAGU SUNGAI PENUH – KERINCI “ MAJEU KINCAI “ ciptaan Iskandar Z