Di antara retakan fajar dan sisa abu malam yang luruh
Aku membasuh wajah dengan cahaya
yang belum sepenuhnya utuh
Merasakan jantung yang berdetak pada
rima yang pasti
Seperti orkestra kecil yang menolak
untuk berhenti dan mati
Langkahku
bukan lagi sekadar perpindahan raga di atas tanah
Melainkan tarikan garis pada peta
yang selama ini masih mentah
Aku adalah penenun dari benang-benang
takdir yang paling sunyi
Mengikatkan mimpi pada tiang-tiang
langit yang tak pernah bertepi
Kegagalan hanyalah
pupuk bagi kuncup-kuncup paling keras kepala,
Luka-luka yang mengering kini
menjelma menjadi aksara paling mulia
Tak kucari lagi validasi pada
pantulan cermin yang kerap berbohong
Sebab aku tahu, di dalam
kehampaan, keberanian tak pernah kosong
Biarkan dunia
menjadi labirin yang penuh dengan teka-teki sengit
Aku akan menjadi angin yang menembus
celah-celah paling sempit
Percaya diri bukanlah teriakan,
melainkan ketenangan air di dasar telaga
Yang meski dihujam batu, tetap
menyimpan rahasia kedalaman surga
Hari ini,
kulepas jubah keraguan yang selama ini merantai bahu,
Menuju cakrawala yang warnanya tak
pernah benar-benar kutahu
Aku adalah doa yang sedang berjalan
menuju pengabulannya sendiri
Menjadi matahari kecil yang berani
terbit, meski di tengah sepi
Suara-suara di
luar hanyalah rintik yang gagal membasahi inti api
Aku merayakan setiap detik sebagai
ibadah bagi diri yang paling sejati
Di bawah naungan semesta yang luas
dan penuh misteri yang ranum
Aku memilih mekar, di saat dunia
sibuk meramal kapan aku bias tersenyum.

Comments
Post a Comment