PUISI: MANIFESTO PAGI


Di antara retakan fajar dan sisa abu malam yang luruh

Aku membasuh wajah dengan cahaya yang belum sepenuhnya utuh

Merasakan jantung yang berdetak pada rima yang pasti

Seperti orkestra kecil yang menolak untuk berhenti dan mati

 

Langkahku bukan lagi sekadar perpindahan raga di atas tanah

Melainkan tarikan garis pada peta yang selama ini masih mentah

Aku adalah penenun dari benang-benang takdir yang paling sunyi

Mengikatkan mimpi pada tiang-tiang langit yang tak pernah bertepi

 

Kegagalan hanyalah pupuk bagi kuncup-kuncup paling keras kepala,

Luka-luka yang mengering kini menjelma menjadi aksara paling mulia

Tak kucari lagi validasi pada pantulan cermin yang kerap berbohong

Sebab aku tahu, di dalam kehampaan, keberanian tak pernah kosong

 

Biarkan dunia menjadi labirin yang penuh dengan teka-teki sengit

Aku akan menjadi angin yang menembus celah-celah paling sempit

Percaya diri bukanlah teriakan, melainkan ketenangan air di dasar telaga

Yang meski dihujam batu, tetap menyimpan rahasia kedalaman surga

 

Hari ini, kulepas jubah keraguan yang selama ini merantai bahu,

Menuju cakrawala yang warnanya tak pernah benar-benar kutahu

Aku adalah doa yang sedang berjalan menuju pengabulannya sendiri

Menjadi matahari kecil yang berani terbit, meski di tengah sepi

 

Suara-suara di luar hanyalah rintik yang gagal membasahi inti api

Aku merayakan setiap detik sebagai ibadah bagi diri yang paling sejati

Di bawah naungan semesta yang luas dan penuh misteri yang ranum

Aku memilih mekar, di saat dunia sibuk meramal kapan aku bias tersenyum.

 

Comments