CATATAN SUNYI DI UJUNG HARI
Aku menuliskan kembali tentang sebuah rasa. Tentang siluet hati yang meski pedih namun ingin tetap ku kenang sebagai sebuah penggalan kisah. Pagi pernah membawa hangat yang begitu sederhana. Begitu pun teriknya siang atau redupnya senja. Ketika tawa masih bisa lepas tanpa sekat, ketika percakapan kita cukup diikat oleh rasa percaya dan hobi yang sama. Kamu adalah teman lama, sosok yang pernah kubela tanpa ragu.
Saat genderang Pemilihan itu ditabuh, aku yakin melangkah di sampingmu. Tubuhku saat itu sebetulnya belum sepenuhnya pulih. Rasa lelah dan sisa sakit kerap menyapa di tengah riuhnya perjuangan, tetapi hatiku tak pernah berhitung. Aku membantumu dengan penuh ikhlas, tanpa memikirkan apa yang bisa kuambil kembali. Aku mengambil peran yang ku mampu. Bagiku, keberhasilanmu saat itu adalah kebahagiaan seorang sahabat. Aku hanya ingin melihatmu berdiri tegak di puncak mimpi.
Namun, waktu rupanya pandai mengubah arah angin.
Waktu pun berlalu sejak keriuhan itu reda. Sosok yang kukenal perlahan memudar, tertutup oleh dinding-dinding tinggi bernama kekuasaan. Tak ada lagi sapaan akrab, tak ada lagi ruang hangat untuk bertukar cerita seperti dulu. Keakraban kita meredup, menyisakan jarak yang kian hari kian tak terjangkau. Aku tetap pada peran yang kujalani dalam diam agar bisa mengiring Langkah mu, berbuat untuk kepentingan orang banyak.
Hingga suatu hari, ada satu amanah yang terbuka—sebuah jabatan yang di atas kertas maupun di dalam jiwa, aku tahu betul diriku kompeten untuk mengembannya. Sebuah kesempatan untuk berbuat lebih banyak.
Aku
tak meminta diistimewakan, aku hanya mengira ikatan dan keahlianku akan dinilai
secara adil. Namun, jangankan memberi kepercayaan, menitipkan amanah itu padaku
pun enggan kau lakukan. Ada ragu yang sengaja kau bentang, seolah aku adalah
orang asing yang tak pernah berdarah-darah bersamamu.
Aku tidak marah. Sama sekali tidak ada benci yang bertunas di dadaku. Toh, marah hanya akan menghabiskan sisa energi yang ku punya.
Rasa ini jauh lebih tenang dari amarah, tetapi jauh lebih berat untuk dipikul. Ini adalah kekecewaan yang dalam—sebuah linang sunyi yang mengalir tanpa suara. Aku hanya teringat pada ketulusan yang pernah kuberi, lalu menyadari bahwa panggung politik kerap kali terlalu sempit untuk menampung ketulusan sebuah persahabatan.
Kini, biarlah semuanya menjadi bagian dari pendewasaan hidup. Bahwa orang yang kita anggap teman, ternyata hanya lah sekedar kenalan. Aku belajar bahwa tidak semua kebaikan akan kembali dengan rupa yang sama. Biarlah pengorbananku tetap menjadi rahasia yang bersih antara aku dan Sang Pemilik Hati, sementara kamu melanjutkan langkah di atas tempat yang kau tuju.
Lempur, 01 September 2026
Comments
Post a Comment