PADA SIAPA AKAN KITA TITIPKAN NEGERI INI : Sebuah Puisi dari Kumpulan Puisi Dunia Kertas





Sedangkan kini tongkat-tongkat yang dulu kokoh mulai lekang dan rekah diantara keras dan teriknya mahatari menyahut fajar.
Ia rapuh dan terus lapuk
Semakin condong dan terikut hembusan angin untuk selamanya rebah.

Sedangkan sayap-sayap yang dulu gagah mengepak kini mulai jinak dan mengalah pada sebaris rintik yang turun perlahan kala senja.
Ia rikuh dan terus terbujuk
Semakin lemas dan terbawa rayuan serumpun ilalang untuk selamanya patah

Dilain siang semakin banyak kepala yang tertunduk dan sedu
Memupuk harapan semu dibalik buaian angin
Nina bobok lah buih-buih tak bertaji
Lelap hingga senyap
Tak perlu terjaga hingga kuhias tongkat lapukku sekilap senyummu

Atau dilain petang semakin sunyi tepian negeriku seperti takut bersua malam
Dan kukenyangkan mimpi-mimpimu di tilam jerami lusuh
Lelap hingga senyap
Tak perlu berlari
Tak perlu mencari
Pada siapa akan kita titipkan negeri ini
Sedangkan para dajjal lebih mampu bersembunyi dan berpuisi dibalik topeng-topeng yang tak kita kenali

Ku masih mencintaimu…
Negeri ku

Sungai Penuh, awal desember 2010

Comments